SMA YASFI

13 April 2010 - No Responses

yasfi2Hari ini adalah minggu-minggu terakhir menjelang kelulusan saya dari sekolah ini. Saya bersekolah di SMA YASFI (Yayasan Pendidikan Fisabilillah). YASFI (www.yasfi.or.id) adalah yayasan yang dibentuk dan didirikan pada tahun 1977 ditandai dengan berdirinya sekolah madrasah tingkat dasar (madrasah diniyyah awwaliyah). Terletak di kampung sawah, Kel. Jatimurni Kec. Pondok Melati (30 km dari pusat Jakarta, dan 20 km arah selatan dari kota Bekasi) dalam lingkungan masyarakat pedesaan yang sedang merangkak menuju kota, di tengah umat beragama yang heterogen, dan tingkat pluralisme yang sangat tinggi namun hidup rukun dan tenang menjalankan agama yang dianut.


masjid4

Terima kasih Bapak dan Ibu guru yang dengan sabar sudah menginstall pengetahuan dan budaya yang baik kedalam otak saya. Posting ini adalah salah satu ujian praktek TIK. Ya, guru TIK memang mewajibkan kami untuk membuat sebuah blog, katanya agar kita bisa mengekpresikan diri lewat tulisan dan juga berbagi ilmu pengetahuan.

PERSIB

13 April 2010 - No Responses

persibPosisi akhir musim 2008/09: Peringkat 3
Nama Stadion: Stadion Si Jalak Harupat (Kapasitas 40.000)
Tanggal Berdiri: 14 Maret 1933
Julukan: Maung Bandung, Pangeran Biru
Kelompok Suporter: Viking
Catatan Prestasi:
5 kali juara Perserikatan (1937, 1961, 1986, 1990, 1994)
8 kali runner-up Perserikatan (1933, 1934, 1936, 1950, 1959, 1960, 1982/83, 1984/85)
1 kali juara Liga Indonesia (1994/95)

Sejarah Singkat:
Ketika pertama kali didirikan sekitar tahun 1923, Persib dikenal dengan nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond [BIVB] yang merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.

Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB [Persebaya], MIVB [sekarang PPSM Magelang], MVB [PSM Madiun], VVB [Persis Solo], PSM [PSIM Yogyakarta] turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia, yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung [PSIB] dan National Voetball Bond [NVB]. Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib.

Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepakbola yang dimotori orang-orang Belanda, yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken [VBBO]. Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib, dan dianggap perkumpulan kelas dua. Persib memenangkan perang dingin dan menjadi perkumpulan sepakbola satu-satunya di Bandung dan sekitarnya.

Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNI dan Sidolig pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding, yakni Lapangan UNI dan Sidolig [kini Stadion Persib], dan Lapangan Sparta [kini Stadion Siliwangi].

Sebagai tim yang dikenal tangguh, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik junior maupun senior.

Pemain Bintang:
- Cristian Gonzales
Sejak direkrut dari Persik Kediri pada pertengahan musim lalu, Gonzales langsung menyetel dengan permainan Persib. Perannya di tim ini cukup besar, dan turut membawa Persib menempati peringkat tiga klasemen akhir. Gonzales pernah menjadi top skorer tiga musim berturut-turut di Liga Indonesia. Musim lalu, Gonzales mengemas 28 gol.

- Eka Ramdani
Eka merupakan pemain hasil binaan tim junior Persib. Pada usia belasan tahun, Eka menjelma menjadi salah satu bakat terbesar yang dimiliki Persib. Kendati bertubuh mungil, namun pernanan Eka di barisan tengah sangat dominan, mampu berperan sebagai pengatur serangan, dan memiliki jiwa pemimpin.

- Kosin Hathairattanakool
Kosin mengubah namanya menjadi Sinthaveechai setelah mendapat anjuran dari rahib untuk mendapatkan keberuntungan dalam karir sepakbolanya. Entah benar atau tidak, namun perubahan itu memang terjadi. Ia menjadi andalan timnas Thailand di bawah mistar gawang, dan akan memperkuat Persib selama setengah musim sebelum mengadu nasib ke Jepang.

Nama Pelatih:
Jaya Hartono

Skuad Pemain:

KIPER - (18) Sinthaveechai “Kosin” Hathairattanakool, (20) Cecep Supriatna, (1) Dedi Haryanto. BELAKANG - (5) Maman Abdurahman, (30) Nova Arianto, (4) Wildansyah, (26) Aji Nurpijal, (2) Edi Hafid, (77) Chandra Yusuf, (17) Christian Rene. TENGAH - (12) Gilang Anggakusuma, (3) Irwan Wijasmara, (8) Eka Ramdani, (7) Atep, (24) Hariono, (16) Munadi, (27) Cucu Hidayat, (15) Rangsan Viwatchaichok, (10) Hilton Moreira. DEPAN - (13) Budi Sudarsono, (9) Airlangga, (99) Cristian Gonzales.

Tentang Vikers

19 Februari 2010 - No Responses

Jika kita melihat rangkaian sejarah perjalanan Viking
Persib Club, maka para Vikers — para anggotanya,
akan selalu bercermin pada perjalanan PERSIB Bandung
dalam mengarungi samudera kompetisi sepakbola di
Indonesia, baik pada saat kompetisi perserikatan
maupun kompetisi Liga Indonesia. Dalam proses
kelahirannya, Viking tidak begitu saja menjelma
menjadi suatu “Kelompok Suporter”. Berawal dari
perjalanan prestasi “sang idola” Persib Bandung yang
begitu membanggakan dan menggentarkan persepakbolaan
di Indonesia, khususnya di era tahun 1985 s.d 1995.
Pada dekade tersebut Persib memberikan kebanggaan
untuk para pencintanya, lima kali tampil di Final
Piala Presiden (perserikatan) dan tiga kali
diantaranya Persib tampil sebagai “Kampioen” kompetisi
perserikatan tersebut, sehingga secara ‘de facto’
gelar raja perserikatan bisa kita ‘klaim’ menjadi
milik Persib Bandung. Viking dengan ‘segelintir para
pionner-nya’ masih merasakan memori saat saat
mengharu birunya senayan oleh sorak sorai bobotoh.
Piala presiden sebagai lambang supremasi tertinggi Tim
Perserikatan pada saat itu baru berhasil direbut oleh
PERSIB setelah mengalami dua kali kekalahan lewat adu
penaliti dengan musuh bebuyutannya — PSMS Medan.
Nista Maja Utama, adalah salah satu bunyi spanduk yang
membakar semangat ‘para maung’ tak kala Persib tampil
untuk yang ketiga kalinya di Final Piala Presiden dan
terbukti irisan Kang Jajang Nurjaman di sektor kanan
pertahanan PERSEMAN Manokwari mampu menjebol gawang
musuh. Terbayarlah sudah keinginan warga Jabar untuk
mengembalikan ‘kehormatan’ sepakbola tersebut ke tatar
pasundan setelah lama berada di negeri orang. Persib
Bandung tidak puas begitu saja untuk memberikan
kebanggaan dan kehormatan kepada para pendukungnya,
tampil sebagai nomor wahid dalam piala presiden
terakhir, dilanjutkan lagi dengan merebut juara pada
kompetisi sepakbola Liga Indonesia I dengan
menjungkalkan klub semi profesional Petrokimia Putra.
Menjadi yang terakhir dan yang pertama dalam suatu
kompetisi pada akhirnya menjadikan sosok Persib
Bandung bak Legenda — dan legenda itu harus terus
dilestarikan oleh kami pendukungnya.
‘Totalitas’ yang telah diberikan Persib Bandung
kepada pendukungnya dijawab dengan ‘totalitas’ pula
oleh sekelompok suporter di tribun selatan. Melalui
beberapa pertemuan informil diantara kami, tercapailah
sebuah kesepakatan dan komitmen yang merupakan janji
moral para Vikerl untuk selalu menjaga Kehormatan
Persib Bandung, dimanapun,kapanpun, dan dengan cara
apapun. Menyadari hal tersebut, maka lahirlah VIKING
PERSIB CLUB –sebuah wadah untuk mengakomodasi ‘janji
moral’ mereka.
Secara demonstratif Viking pertama kali mulai
menunjukan dirinya pada saat Liga Indonesia I tahun
1993 yang digemborkan sebagai kompetisi semi
profesional pertama di tanah air kita ini. “Persib
Sang Penakluk “ terlihat dominan pada salah satu
atribut para anggotanya. Dan terbukti Persib sanggup
menggeliat dan menaklukan musuh-musuhnya. Perjalanan
waktu, kebersamaan, hubungan pertemanan, dan kesamaan
rasa cinta yang telah terbina akhirnya menjadikan
Viking sanggup bertahan sebagai kelompok suporter ,
dengan segala kekuranggannya sampai saat sekarang ini.
Nama Viking diambil dari nama sekelompok suku, yang
mendiami suatu kawasan skandinavia di Eropa Utara,
yang sekarang menjadi negara Denmark dan Norwegia.
Mereka dahulu terkenal sebagai suku yang punya
karakter gigih,solid, patriotis, dan pantang menyerah.
Semangat dan karakter suku tersebutlah yang lebih
mendasari pem-baptisan nama Viking. “Apalah arti
sebuah nama” begitu Shakespeare berkata, namun beliau
lupa, nama terkadang begitu penting untuk membedakan
sesuatu dengan yang lainnya.
Viking sebagai kelompok bukanlah ‘organisasi’ atau
‘fans club’ dengan segala aturan-aturan yang
mengikatnya. Setiap anggota (Vikers) adalah bagian
dari ‘sebuah keluarga’. Layaknya sebuah keluarga,
keberagaman sifat dan tingkah laku merupakan hal yang
lumrah. Disinilah fungsi keluarga harus mewadahi
keberagaman tersebut. Berandal atau baik, brutal atau
pendiam, pemabuk ataupun bukan tidak dijadikan
penilaian dan standar — bisa tidaknya menjadi bagian
dari sebuah keluarga besar Viking Persib Club. Namun
apakah dengan begitu Viking menjadi organisasi yang
liar tanpa aturan, mirip gerombolan ? jelas-jelas
jawabannya tidak dan tak akan pernah.
Dalam sebuah keluarga ada fungsi kontrol yang sudah
kita ketahui bersama, yakni saling mengingatkan, kakak
kepada adiknya, atau sebaliknya. Atau kalau perlu kita
menjewernya jika ada diantara kita berbuat keluar
norma-norma. Cukup itu saja, karena dengan cara
seperti itu Viking akan selalu eksis oleh hubungan
pertemanan dan kekeluargaan yang tulus — tanpa
pamrih, erat, penuh persaudaraan.
Quo Vadis Viking ?
Berbicara tentang arah Viking ke depan, mau tidak mau
haruslah kita pikirkan. Sederhananya, mungkin seperti
ini. Hendak dikelola seperti apa Viking sebagai
kelompok suporter dalam tahun-tahun ke depan, apakah
cukup seperti yang sudah kita jalani atau kita
formalkan seperti tuntutan jaman. Memang tak mudah,
ada kerugian serta keuntungan yang harus
dipertimbangkan dalam pilihan tersebut. Berbicara
formalitas, maka Viking haruslah berwujud organisasi
resmi dengan badan hukum. Artinya Viking mempunyai
struktur organisasi yang jelas dengan segala
aturannya. Itu memudahkan pengaturan anggotanya tetapi
efek negatifnya Viking akan terkotak-kotak oleh
jenjang keanggotaan. Ketua dengan stafnya, staf dengan
anggotanya, jadinya hubungan pertemanan dan
kekeluargaan akan terkikis sedikit demi sedikit oleh
suasana sebuah organisasi. Apa yang akan terjadi
setelah itu ? lambat laun tapi pasti, kedekatan serta
hubungan yang erat sebagai keluarga akan otomatis
hilang diantara kita — dan itu merupakan awal sebuah
kehancuran bangunan perjuangan panjang, Viking Persib
Club.
Keanggotaan yang semakin besar jelas perlu kita atur
bersama dengan cara-cara yang profesional agar bisa
terukur dan dapat dipertanggung jawabkan. Baik itu
pendataannya maupun managemen keuangannnya. Namun
tetap, ciri dan karakter Viking tidaklah harus hilang
oleh formalitas tadi. Viking tetaplah Viking — dia
haruslah bercirikan ‘kedekatan yang tulus’ antar
anggotanya dan berkarakter sebagai sebuah ‘keluarga’
ataupun ‘Geng’.
Dalam pandangan ‘Viking” fungsi suporter tidak hanya
sebagai ‘Tukang Sorak’ saat menyaksikan keberhasilan
kesebelasan kesayangannya, atau berbalik ‘Menyoraki’
kegagalan kesebelasan kesayangannya. Supporter
haruslah berperan lebih jauh. Dia haruslah menjadi
pembangkit semangat yang tak henti-hentinya saat
Persib jatuh dan bangun dalam menunaikan tugas di
lapangan, supporter juga sekaligus menjadi kekuatan
tambahan bagi para pemain di lapangan. Benang
merah-nya Viking memandang supporter merupakan pemain
ke-12 di tengah lapangan, dan Viking ingin menjadi
pemain ke-12 tersebut.
Akhir kata, semua harus punya kepeduliannya terhadap
keberadaan “keluarga Viking”. Sebagai sebuah ‘gabungan
karakter antar individu’– Viking haruslah
mewadahinya. Kepentingan pribadi atau tujuan-tujuan
negatif dibalik semua itu haruslah tidak ada dalam
benak anggotanya. Dibalik itu Viking tidak boleh
melupakan sejarahnya — sejarah panjang sebuah janji
moral para bobotoh — untuk tetap mencintai Persib
dimanapun, kapanpun dan dengan cara apapun. Bukan
begitu Vikers ?

Jabat erat dan salam VIKERS.

J rocks chord

9 Februari 2010 - No Responses

J Rocks Mestinya ku akhiri semua


[intro] A Dm B E 2x

Am E
ku terdiam sendiri
A Dm
mengingat yg telah terjadi
G C
diriku yg tlah tersakiti
F E Am
menangis menyepi

Am E
mengertikah dirimu
A Dm
akan rapuhnya diriku
G C
mengapa kau tiada peduli
F E Am
selalu menyiksaku

[reff]
A Dm
semua yg ku lewati
B E
hanyalah beban di hati
A Dm
mimpiku pun tlah berlalu
B E
harapanku semakin jauh

[int]
F G-Em F G-Em
F G-Em F G Am

Am E
mengertikah dirimu
A Dm
akan rapuhnya diriku
G C
mengapa kau tiada peduli
F E Am
selalu menyiksaku

to: [reff]

A Dm
takdir yg kurasakan
B E
hanyalah beban kehancuran
A Dm
tlah letih ku tuk mengerti
B E
mestinya ku akhiri semua

F…

By : Hilman Jrs

J rocks chord

9 Februari 2010 - No Responses
J Rocks Cahaya-Mu

intro : Am E (4x)

Am E Am E
kini ku tidur dalam mimpi
Am E Am E
mimpi-mimpi yang tak pasti
Dm A Dm
akankah s’lamanya begini
F G Am E Am E
menjadi misteri….

(*)
Am E Am E
bangunkan aku dari tidurku
Am E Am E
hingga ku tak lagi ragu
Dm A Dm A
tuk mencari arti hidupku
F G Am E Am E
wujudkan semuanya menjadi nyata

Reff :
Am E
berikanlah aku petunjukMu
Am E
agar ku tahu jalan hidupku
F G F
hanyalah…diriMu…
G Dm Em F G
cahaya…penerang jiwaku

Am E (4x)

kembali ke (*)

Am E (4x)
Dm A (2x)
F G Am F

kembali ke REFF

Am E (4x)
F

By : Hilman Jrs